resensi buku

Negeri Para Bedebah

Ini kali keempat aku membaca buku karangan Tere Liye. Yang pertama aku membacanya di bangku SMP berjudul Hafalan Shalat Delisa. Lalu yang kedua Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin saat dibangku SMA. Dan beberapa minggu lalu aku tertarik kembali untuk membaca buku karangan Tere Liye, yang berjudul Hujan. Sejujurnya, dari dulu aku selalu bertanya-tanya, kenapa banyak sekali teman-temanku yang sangat antusias dan menantikan buku Tere Liye. And now, i know the reason.. Hehehe… Telat banget ya. Abisnya masa SMP dan SMA-ku kuhabiskan untuk membaca novel karangan Sitta Karina, Ilana Tan, Agnes Jessica, Esti Kinasih, ataupun Dyan Nuranindya. Kalian pasti bisa menebak jenis novel apa yang menarik minatku dari sederet nama yang aku jabarkan. Wkwkwk.

Saat aku membaca Hujan, aku langsung suka dengan gaya penulisan Tere Liye. Menarik misterius. Baru saat itu aku memahami mengapa banyak orang suka dengan karya Tere Liye. Knowledgeable. Meskipun ini novel fiktif tapi ga menye-menye dan banyak hal baru yang bisa kamu dapatkan. Perumpamaan-perumpaan yang ngena banget. Dan tentunya pesannya nyampe banget.

Dan barusan, aku menyelesaikan membaca Negeri Para Bedebah. Dari pertama membaca judulnya, aku bisa menebak ini gak akan jauh-jauh dari namanya pemerintahan dan tetek bengek kebobrokan para penguasa negeri ini. Sesuai perkiraan, memang ceritanya tentang perebutan harta, kekuasaan, dan budaya korupsi. Konflik ceritanya perpusat pada kolapsnya Bank Semesta. Dari alur ceritanya, mengingatkan kita tentang kasus Bank Cent**ry. Mungkin si penulis terinspirasi dari kasus tersebut.

Tokoh utamanya bernama Thomas yang diceritakan sebagai konsultan keuangan sukses. Dia digambarkan sebagai sosok cerdik, gesit, kuat, orang yang kece, terkenal, dan sibuk banget. Jadwal dia udah mau ngalahin jadwal Presiden aja. Kisahnya dimulai saat dia tahu bahwa Bank Semesta terancam ditutup which is bank ini ternyata milik Om-nya yang bernama Om Liem. Meskipun dia gak suka sama Om Liem, dia tetep ngebantu untuk menyelamatkan Bank Semesta. Selain itu, dendam masa lalunya juga yang membawanya pada inti konflik cerita ini. Misi penyelamatan Bank Semesta hanya dapat dilakukan dalam waktu 2 hari sebelum bank dinyatakan kolaps atau tidak oleh pemerintah. Bayangin, waktunya sesingkat itu. Dan emang alur cerita sebuku itu cuman nyeritain kejadian selama 2 HARI! Luar biasa kan. Tapi rasanya udah berhari-hari loh pas bacanya karena saking serunya dari setiap momennya. Alur ceritanya seperti film-film action yang biasa kita lihat. Ada aksi tembak-menembak, pukul-pukulan, suap-menyuap, penyamaran, dan nepotisme. Yang seru lagi, kalian bisa melihat gimana caranya Thomas bisa ‘menyetir’ media massa. Mantep lah pokoknya. Terus juga aksi Thomas dalam menge-approch pion-pion mainannya.

Oiya, ada momen yang membuat ku menganga. Ceritanya, Thomas ini akhirnya jadi buronan polisi dan harus menyamar menjadi buronan beneran untuk bisa naik pesawat dari Jakarta ke Denpasar. Dia ke Denpasar ceritanya agar bisa bertemu putra makhota sebagai pion terakhir dari rencana penyelamatan. Disitu teman Thomas, bernama Rudi, seorang polisi dengan jabatan tinggi, menceritakan bahwa di Indonesia banyak sekali kasus pemerkosaan, pembunuhan, pengedaran narkoba dll. Cara untuk memindahkan para buronan dari satu kota ke kota lain itu dengan menaikkan mereka ke pesawat komersil dan menyamarkan mereka layaknya penumpang biasa. Bisa dibayangkan, disaat kita naik pesawat, bisa jadi di seat pesawat paling belakang itu ada buronan yang dibawa oleh polisi. Entah ini fakta atau fiktif.

Tere Liye juga menyelipkan twist wartawan wanita bernama Julia sebagai partner Thomas dalam menyelesaikan misi tersebut. Bagian yang aku suka adalah disaat flashback memorinya Thomas dengan Opa. Selalu ada pelajaran disitu, terutama tentang kehidupan. Dari tokoh Opa, aku belajar bahwa pengalaman itu adalah pelajaran berharga. Opa mengatakan bahwa menjadi orang yang ahli itu tidak hanya dari mengenyam pendidikan formal aja tetapi bisa dengan cara otodidak serta kemauan tinggi. Rasanya pingin punya Opa kayak gitu wkwkwk. Bisa ngajarin banyak hal ke cucunya, kan seru ya :3

Untuk yang ingin tahu keseruan Thomas ini bisa langsung baca Negeri Para Bedebah. Dan kisah Thomas masih berlanjut di sekuelnya berjudul Negeri di Ujung Tanduk. Mungkin, aku akan lanjut membacanya nanti, tidak sekarang. Hehehe. Masih masa magang coy. Oiya, aku sekarang lagi Magang Masyarakat di Kelurahan Pondok Jaya, Cipayung lho. Maybe, next time, aku bakal ceritain pengalamanku tinggal selama sebulan di daerah tersebut.

Yuk budayakan membaca buku, karena buku adalah jendela ilmu. Ya, paling engga 1 month 1 book deh, Semangat!

 

 

Advertisements

6 thoughts on “Negeri Para Bedebah

  1. Mantep yaaa tere liye ini. Dia juga salah satu penulis yg aktif kaan. Banyak bukunya yg terbit. Aku jugaaa dulu baca yg hafalan sholat delisa. Terus sediiiih :’

    Like

  2. Aku baca hafalan sholat delisa pas SMA wkwk telat banget, kebanyakan baca Conan ._. Tp sempet diceritain ttg Negeri para bedebah ini, kl dihub dg keadaan nyata, well sgt mungkin macem mafia gtgt disekitar kita.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s