ceritadikit

Singgah Sebentar

Rasanya kepulanganku ke kampung halamanku kali ini adalah yang tercepat setelah 3 tahun aku merantau di kota petir. Ya cuman 2 hari. Hari Sabtu dan Minggu. Aku datang Jumat malam kemarin. Biasanya aku akan menghabiskan waktu minimal 1 bulan untuk berlibur. Namun kali ini berbeda. Kepulanganku ini untuk datang ke acara pernikahan saudaraku. Meskipun kami bukan saudara sepupu langsung-bisa dibilang dua pupu lah ya karena ibunya adalah saudara sepupu ayahku as you know kebiasaan orang Indonesia untuk menyebut saudara selama berasal dari keturunan yang sama-karena keluarga kami yang sangat dekat satu sama lain maka aku pun mendesak Bunda untuk pulang. Menjadi budaya keluarga sangat besarku juga -saat aku menyebut keluarga sangat besar artinya dari keturunan mbah buyutku- saat ada yang punya gawe pasti kami semua harus datang. Dari sebulan lalu, perbincangan apakah aku harus pulang atau tidak sudah menjadi topik wajib dengan Bunda. Aku yang bersikeras untuk pulang, sedangkan Bunda tidak rela jika anaknya cuman pulang dalam waktu singkat. Kata beliau “Mbak… cek cepetnya, ga puas ntar kangennya, nggarai mangkel ae” dengan nada khas merengek dan sok sedih wkwkwk. Akhirnya Bunda luluh juga setelah Tanteku berkunjung ke rumah sampai-sampai Tanteku meneleponku langsung. Kaget, disaat aku baru saja menaiki bikun dari halte FKM ke FT, tiba-tiba Tante terceriwisku ini menelpon. “Mbak kamu ga pulang ta, Mbak Ninis mau nikah lho” “Wkwkwk ya pingin te, bilangin Bunda tuh te biar dapet restu” selanjutnya perbincanganku mentok sampai situ karena sinyal tidak mendukung nyambung mati nyambung mati. Akhirnya keesokannya Bunda menelepon dan benar-benar menyarikan tiket kepulanganku *evil laugh*. And that’s why akhirnya aku kembali ke kota pahlawan.

Seneng banget rasanya kembali ke kampung halaman. Dan yang benar-benar berasa adalah kehangatan keluarga yang sangat kurindukan. C’mon, family is everything. Kumpul berempat ama Bunda, Ayah, dan Adek itu kenikmatan tiada tara (alay ya 🙂 wkwkwk). Apalagi ketemu kunyuk yang akan selalu dipanggil adek-padahal udah umur 19 tahun-kangen lihat muka mangkelnonya dan tingkah laku gajelasnya. Ya tapi tetep aja berantem wkwkwk. Untungnya 2 hari ini tidak ada pertarungan sengit seperti biasanya, bisa dikatakan hanya sampai level mild. Enaknya kumpul bareng keluarga ga cuman dari sisi psikologi sih, nikmat lainnya juga di fisik. Jelas, duit makan terjamin masih utuh. Hahaha. Setiap pulang, Bunda akan menanyakan anak-anaknya mau makan apa dan pasti diturutin. Untungnya si anak tahu diri ga minta aneh-aneh, kan tetap harus berbakti ya :3. Nah, ini momen kumpul full team kami, karena adek juga akhirnya pulang ke Surabaya setelah lama sekali ga pulang. Katanya, terakhir kali pulang ya pas liburan kemarin. “Dek, kok banyak spanduk pssi gini se” “Paling yo Bonek” “Lalapo bonek ambe pssi?” “Yo mboh mbak, aku yo jek tas teko iki. Aku lak saiki wong Malang.” Percakapan singkat di mobil saat dia menjemputku di bandara.

Momen lain dari kepulanganku ini, aku bisa dengan mudah bertemu dengan keluarga sangat besarku. Meet my big big family from my dad. Keluarga Ali Nitidiwiryo. Aku adalah cicit dari Mbah Ali. Beliau asli Madura. Punya lebih dari 10 anak dan yang masih hidup sampai sekarang hanya 6 orang termasuk nenekku (ibu dari ayahku). Tentunya cicit Mbah Ali sangat banyak. Squad cicit dari nenek aku saja sudah 11, belum dari saudaranya yang lain. Tentu para cicitnya juga ada yang sudah mempunyai anak, buyut” dah kalo diurut. Karena masih keturunan Madura maka budaya kekeluargaan kami sangat-sangatlah erat. Selalu ada waktu kami berkumpul. Rasanya biasa untuk dateng utuk utuk ke rumah yang lain hanya untuk numpang buang air terlebih makan dan tidur wkwkwk. Kebiasaan keluargaku, jika ada satu orang yang manten, pasti ngasih undangan cuman 1 a.k.a kepada Keluaga besar Ali. Nanti undangan cuman dibacain aja pas pertemuan keluarga buat formalitas doang. Saking udah saling ngerti kalo ada mantenan pasti yang ribut nyiapin ya se keluarga sangat besar dan yang jadi panitianya pasti kami juga. Tentu kami dapat keluar masuk buffet makan vip seenaknya. Hehehe… Sayangnya, squad para cicit kemarin ga lengkap. Udah pada gede-gede semua dan banyak yang merantau sehingga susah untuk menyocokkan jadwalnya. Dulu, pas jaman masih sekolah, beh, pasti pada dateng dan jadi tersangka penghabis makanan. Hehehe.

Sengaja banget untuk dateng, karena yang punya gawe itu Mbakku sendiri, Mbak Ninis. Salah satu cicit cewek tertua. Ya pasti dateng, orang kami sehidup semati. Yang biasanya jadi ‘pembantu’ para tante ya kami berdua, dua cicit cewek tertua. Setiap pertemuan keluarga aku akan bertanya dulu, “Mbak Ninis ada ga”, soalnya aku tahu ‘tugas’-ku akan seperti apa, kalo ga ada temennya kan, hiks, sedih, harus ngobrolin omongan orang dewasa itu. Wkwkwk. Kan dulu… masih anak sekolahan :).

Usiaku dan Mbak Ninis terpaut hampir 5 tahun. Dia paling tua, bagian bahan bully-an karena usianya. Kami nyebutnya ‘Mbah’. Masih keinget bahan obrolan para cicit” ini. “Lihat aja ntar, pasti gak lama lagi yang nikah ya Mbak Ninis, abis itu Mas Dito atau Mas Ilmi, baru tuh Mbak Rizta”. Wkwkwk, ngakak kalo inget ini! Nah lho, beneran udah menikah aja nih orang. Pasti bahan bully-an nikah-nikah ini akan muncul. Eh taunya si doi udah menikah aja. Finally, so happy for you Mbak! Barakallah.. semoga menjadi keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah. Btw, Mbak utang cerita loh, aku belum tau prosesnya secara detail! Wkwkwk. Met mengarungi bahtera rumah tangga. Ditunggu ponakannya, katanya pingin punya sendiri kan :3

Advertisements

4 thoughts on “Singgah Sebentar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s