ceritadikit · refleksi diri

Cerita Tentang Lampu

Ah, aku jadi inget ada cerita konyol h-1 seminar proposal (semprop) tanggal 3 April 2017, yaps saat semprop part 1 (kenapa aku sebut seperti itu, nanti akan kuceritakan dipostingan lain). Selain mempersiapkan diri untuk presentasi, seharian itu aku juga berkutat dengan yang namanya LAMPU. Literally, lampu, iya, penghasil cahaya itu.

Ceritanya pada pagi hari lampu kamarku tiba-tiba mati. Aku kira ada yang sengaja mematikan, ternyata lampunya emang udah udzur minta diganti. Yaudah deh, aku pikir, ntaran aja deh belinya. Akhirnya setelah driliing presentasi, siang itu aku mampir ke Alf***rt beli lampu dengan merk yang paling terkenal, depannya P. Berbekal tekad untuk segera mengganti lampu dan takut keburu hujan, akhirnya aku berjalan kaki kesana. Tanya ke mbak-mbaknya dan direkomendasiin lampu LED 4 W yang katanya terangnya setara lampu 11 W . Ku percaya aja sama si mbak, pasalnya ku gatau tenang perlistrikan. Oke akhirnya aku beli itu. Sampainya di kamar, dibantu Saad aku mengganti lampu. Strong kan? *anak fkm terbiasa mandiri, populasi lelaki sedikit*. Taraaaa~~ seperti dugaan kalian lampu menyala… dengan redup… Hiks.

Pelajaran pertama: jadilah konsumen cerdas dengan mencari informasi terlebih dahulu sebelum membeli suatu produk

Sedih melihat kamar, akhirnya kuputuskan untuk menitip lampu kepada teman yang lain. Ku tak mau keluar lagi untuk membeli… Saat itu terlintas nama pertama yaitu Desy, dia sedang diperjalanan menuju asrama. Akhirnya aku chat dia, oke dia bisa ngebeliin. Gak lama kemudian ada chat masuk dari Fifil, dia bilang mau beli jeruk dulu di hyp***rt baru ke asrama. (Jeruk ini buat snack semprop, yaps buah adalah barang wajib untuk semprop di gizi katanya biar menerapkan ilmunya ^^). Setelah tahu kalo Fifil ke hyp***rt akhirnya aku nitip lampu sekalian ke dia sehingga Desy gak usah beli. Gak mau ngulang kesalahan yang sama, akhirnya aku tanyalah ke beberapa grup di aplikasi chat smartphone. Katanya lampu 8W itu udah terang buat kamar. Oke, aku nitip yang 11 W aja biar lebih terang, pikirku. Akhirnya Fifil datang, yey, langsung kucoba lah mengganti dengan lampu 11 W ini. Jeng jeng jeng……

Tetap redup… huweeeeee πŸ˜₯

Setelah kami mencoba menganalisis, ini emang posisi lampunya agak menjorok kedalem jadi cahaya yang dihasilkan terhalangi. Selanjutnya kami melihat lampu lama yang mati ini berapa watt sih, dan ternyata lampunya 23 W. Oo jadi gitu. Kok gak beli yang sama aja ya *eng ong*

Pelajaran kedua: belajar dari apa yang telah ada karena pengalaman terdahulu adalah guru bagi masa depan

Pada akhirnya lampu pertama yang aku beli itu dipasang di depan pintu unit. Kebetulan depan unit gak ada lampunya, padahal listriknya nyala. Alhamdulillah, gak sia-sia juga beli jadi bisa dipake. Dan lampu Fifil tetap aku gunakan di kamar sampai sekarang. Alhamdulillah masih bisa buat baca kok, ya tapi agak redup.

Dari kejadian kecil itu banyak pelajaran yang aku dapetin. Kenapa pada akhirnya aku bisa jatuh dilubang yang sama. Kenapa aku gak berpikir dulu lampu apa yang aku harus beli. Spesifikasi yang cocok buat kamar itu jenis lampu apa. Dan kenapa aku gak lihat dulu lampu yang mati itu kan bisa jadi rujukan.

Sama seperti hidup, kita dituntut untuk berpikir cerdas, memilih langkah yang terbaik dengan pertimbangan yang matang sehingga mendapatkan hasil yang memuaskan. Dalam merancangnya kita harus mengumpulkan pengalaman sukses orang lain karena mereka yang lebih dahulu melewati hal tersebut πŸ™‚

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s